Kamis, Juli 10, 2014

PERANG PEMILU



Bulan juni ini memang sungguh special, seperti mi ayam baru yang di iklankan di tv – tv. Coba saja kita lihat bersama bulan juni ini. mari kita berangkat dari awal saja. Setiap tanggal satu juli itu negara kasutuan Indonesia ini mengenag sebgai Hari Bhayangkara, hari peringatan untuk seluruh kepolisian dan jajaranya. Pada zaman kerajaan majah pahit lewat patih Gajah Mada membentuk pasukan pengamanan yang disebut dengan Bhayangkarayang bertugas melindungi  Raja dan  kerajaan.
Kemeriahan perta ulang tahun seolah redup oleh pergulatan politik dalam negeri, memang tidak ada kekecaun fisik yang terjadi, namun perang  sebenanrnya sudah terjadi sejak lama. Sejak   tanggal 1 juli 1946 dengan Penetapan Pemerintah tahun 1946 No. 11/S.D. Djawatan Kepolisian Negara yang bertanggung jawab langsung kepada pertdana mentri.
Perang yang berlasung panas anatara kedua kubu, kubu PDI Perjuangan serta sekutunya dan Gerindra dengan sekutunya, bertarung demi kepercayaan rakyat Indonesia, supaya mereka yang akan menjadi pemimpin negeri selama lima tahun mendatang.
Perang terjadi juga di beberapa kota besar di Brazil, ini pengaruhnya kesluruh dunia.perang fisik otak dan stratergi terjadi setiap harinya di stadion. Pertandingan sepak pola dunia yang hanya berlasung sekali dalam empat tahun ini memang berpengruh besar terhadap dinamika kehidupan sosial di seluruh dunia, dan libuh dari pada itu, semua mata tertuju pada negara yang sudah menj8uari lima kali piala dunia. Perhelatan akbar piala  dunia ini memang menyita umat sejaga, bahakan tidak hanya manusia, para binatang juga turut dalam uforia piala dunia. Bahakan beberap diantara binatang itu kini berbubah jadi tukang sihir yang prediksi hasil pertandingan, meraka melibihi tugas dari para pengamat dan juga anlisis sepak bola.
Sejak pembukaannya 13 juli lalu dan berakir tanggal yang sama bulan ini, member rasa yang berbeda dan uforianya di Indonesia, karena pertandingan di negeri ini untuk emilih presiden terjadi pada Sembilan april, bahakan salah satyu majalah pers mahasiswa menggabarkan mascot piala dunia tahun ini dengan tulisan final 9 juli 2014. Tahun ini memang luar biasa, dalam dinamika politik yang lagi memanas menjelang pemilihan untuk menjadi presiden akan dilaksanakan pada 9 jili ini.
Kampanye sudah dilaksanakan sejak penetapan oleh Komusi Pemilihan umum  di umumkan, dua pasukan adan di adu, kedua kubu membaut strategi untuk satu tujuan yaitu kemenangan. Pemilu tahun ini adalah pemilihan yang secara lasung oleh rakyat dengan dua kandidat. Poros –poros kualisai terbentuk bahakan sejak pemilihan legislative selesai, semua menjacari parner perjuangan, tak ada yang memilih jalan lain semua seoalh dipaksa memilih seperti makan buah simalakama, karena semua jadi memilih. Partadi democrat yang awalnya mendekrasikan dirinya menjadi penentang dalam cabinet, mencari posisi tawar sendiri sebagai oposisi kini sudah bergabung keposoros satu mendukung prabowo, walupun kader- kader pecah bebas meillih untuk menyukseskan jagioan masing- masing.
Pemilihan presiden secara lansung banyak yang beranggapan sebgai capain demokasi di negeri ini. namun bukankah pemuli itu adalah persta bukan perang perubutan kekuasan, tapi persta mencari pemimpin bukan pimpinan dalam pemirintahan. Pilu kali ini adalah pemilu yang paling jelak yang pernah ada, begitulah kiranya bunyi kalimat yang diucapkan salah satu politisi senior negeri ini, dia memang bukan pengamat politik namun begitu dia berpidato depan kader- kader partainya seusai pemilihan.
Tidak salahnya karena bukan persata yang terjadi selama beberapa minggu diakir juni dan awal juli ini, perang yang memang benar- benar perang, saling hujat antara kadidat sebagi lawan politik seolah kalimat yang terus dibicarak dalam seluruh media. Saling tuding, saling mencari dan menggumbar kelemahan adalah meteode baru yang buruk dalam pestga kali ini, hingga tak jarang muncul fanatisme- fanatisme yang bodoh karena klain atas ksalahan yang terus di umbar dan menjadi satu keberan.
Seperti oabat biasa dalam pertarung, isu sara terkang muncul dan bahkan dimuncul- munculkan, kesalah- kesalah dari lawan tanding terus di hidupkan sehingga menjadi seolah olah benar adanya. Dan yang menjadi harapan sebgai pembwa berkah juga tidak datang. Pers muncul bukan lagi sebagai penyeibang dalam memantu dan menjaga pertarungan hialng dari harapan. Ucapnya sebgai pilar keempat dalam demokrasi, penjaga dalam perjalanan kekuasaan malah terjebak dalam ranah penguasa ata media. Pers tidak lagi berimbang, keberpihan butapun muncul dari setiap media, sehingga masayarakat tidak bisa mengasekses calonyang benar, belum lagi muncul media- media dakan yang hanya muncul untuk menggumbart dusta dan emembwa api kebincian, media cetak itu datang seperti jelangkung menambah prahara duka dalam jiwa setiap rakyat. Keresahan hati hingga mencul sikap politik manjadi golongan putih
Tidakkah sipa yang menang adalah pemimpi9n kita semua seluruh warga negara, bukan hanya mereka yang pro dan tem sukses- tim sukses, para simpatisan belakan. Tapi kita yang berada di sebarang dalampandangan politik juga adalah rakyatnya dari yang emang.
“ semoga peilu ini mebawa kbahagian bagi seluruh negeri seperti jerman yang bahagia dengan trofi piala dunia, tidak seperti brazil yang beduka hingga hilang krisi kepercayaan dari Tuan penguasa negeri yaitu “ Rakyat””

Tidak ada komentar: