Bulan
juni ini memang sungguh special, seperti mi ayam baru yang di iklankan di tv –
tv. Coba saja kita lihat bersama bulan juni ini. mari kita berangkat dari awal
saja. Setiap tanggal satu juli itu negara kasutuan Indonesia ini mengenag
sebgai Hari Bhayangkara, hari
peringatan untuk seluruh kepolisian dan jajaranya. Pada zaman kerajaan majah pahit
lewat patih Gajah Mada membentuk
pasukan pengamanan yang disebut dengan Bhayangkarayang
bertugas melindungi
Raja dan kerajaan.
Kemeriahan
perta ulang tahun seolah redup oleh pergulatan politik dalam negeri, memang
tidak ada kekecaun fisik yang terjadi, namun perang sebenanrnya sudah terjadi sejak lama. Sejak tanggal 1
juli 1946 dengan Penetapan Pemerintah tahun 1946 No. 11/S.D. Djawatan Kepolisian
Negara yang bertanggung jawab langsung kepada pertdana mentri.
Perang yang berlasung panas anatara kedua kubu, kubu PDI
Perjuangan serta sekutunya dan Gerindra dengan sekutunya, bertarung demi
kepercayaan rakyat Indonesia, supaya mereka yang akan menjadi pemimpin negeri
selama lima tahun mendatang.
Perang terjadi juga di beberapa kota besar di Brazil, ini
pengaruhnya kesluruh dunia.perang fisik otak dan stratergi terjadi setiap
harinya di stadion. Pertandingan sepak pola dunia yang hanya berlasung sekali
dalam empat tahun ini memang berpengruh besar terhadap dinamika kehidupan
sosial di seluruh dunia, dan libuh dari pada itu, semua mata tertuju pada
negara yang sudah menj8uari lima kali piala dunia. Perhelatan akbar piala dunia ini memang menyita umat sejaga, bahakan
tidak hanya manusia, para binatang juga turut dalam uforia piala dunia. Bahakan
beberap diantara binatang itu kini berbubah jadi tukang sihir yang prediksi
hasil pertandingan, meraka melibihi tugas dari para pengamat dan juga anlisis sepak
bola.
Sejak pembukaannya 13 juli lalu dan berakir tanggal yang sama
bulan ini, member rasa yang berbeda dan uforianya di Indonesia, karena
pertandingan di negeri ini untuk emilih presiden terjadi pada Sembilan april,
bahakan salah satyu majalah pers mahasiswa menggabarkan mascot piala dunia
tahun ini dengan tulisan final 9 juli 2014. Tahun ini memang luar biasa, dalam
dinamika politik yang lagi memanas menjelang pemilihan untuk menjadi presiden
akan dilaksanakan pada 9 jili ini.
Kampanye sudah dilaksanakan sejak penetapan oleh Komusi
Pemilihan umum di umumkan, dua pasukan
adan di adu, kedua kubu membaut strategi untuk satu tujuan yaitu kemenangan. Pemilu
tahun ini adalah pemilihan yang secara lasung oleh rakyat dengan dua kandidat. Poros
–poros kualisai terbentuk bahakan sejak pemilihan legislative selesai, semua
menjacari parner perjuangan, tak ada yang memilih jalan lain semua seoalh
dipaksa memilih seperti makan buah simalakama, karena semua jadi memilih. Partadi
democrat yang awalnya mendekrasikan dirinya menjadi penentang dalam cabinet,
mencari posisi tawar sendiri sebagai oposisi kini sudah bergabung keposoros
satu mendukung prabowo, walupun kader- kader pecah bebas meillih untuk
menyukseskan jagioan masing- masing.
Pemilihan presiden secara lansung banyak yang beranggapan
sebgai capain demokasi di negeri ini. namun bukankah pemuli itu adalah persta
bukan perang perubutan kekuasan, tapi persta mencari pemimpin bukan pimpinan
dalam pemirintahan. Pilu kali ini adalah pemilu yang paling jelak yang pernah
ada, begitulah kiranya bunyi kalimat yang diucapkan salah satu politisi senior
negeri ini, dia memang bukan pengamat politik namun begitu dia berpidato depan
kader- kader partainya seusai pemilihan.
Tidak salahnya karena bukan persata yang terjadi selama
beberapa minggu diakir juni dan awal juli ini, perang yang memang benar- benar
perang, saling hujat antara kadidat sebagi lawan politik seolah kalimat yang
terus dibicarak dalam seluruh media. Saling tuding, saling mencari dan
menggumbar kelemahan adalah meteode baru yang buruk dalam pestga kali ini,
hingga tak jarang muncul fanatisme- fanatisme yang bodoh karena klain atas
ksalahan yang terus di umbar dan menjadi satu keberan.
Seperti oabat biasa dalam pertarung, isu sara terkang muncul
dan bahkan dimuncul- munculkan, kesalah- kesalah dari lawan tanding terus di
hidupkan sehingga menjadi seolah olah benar adanya. Dan yang menjadi harapan
sebgai pembwa berkah juga tidak datang. Pers muncul bukan lagi sebagai
penyeibang dalam memantu dan menjaga pertarungan hialng dari harapan. Ucapnya sebgai
pilar keempat dalam demokrasi, penjaga dalam perjalanan kekuasaan malah
terjebak dalam ranah penguasa ata media. Pers tidak lagi berimbang, keberpihan
butapun muncul dari setiap media, sehingga masayarakat tidak bisa mengasekses
calonyang benar, belum lagi muncul media- media dakan yang hanya muncul untuk
menggumbart dusta dan emembwa api kebincian, media cetak itu datang seperti
jelangkung menambah prahara duka dalam jiwa setiap rakyat. Keresahan hati hingga
mencul sikap politik manjadi golongan putih
Tidakkah sipa yang menang adalah pemimpi9n kita semua seluruh
warga negara, bukan hanya mereka yang pro dan tem sukses- tim sukses, para
simpatisan belakan. Tapi kita yang berada di sebarang dalampandangan politik
juga adalah rakyatnya dari yang emang.
“ semoga peilu ini mebawa kbahagian bagi seluruh negeri
seperti jerman yang bahagia dengan trofi piala dunia, tidak seperti brazil yang
beduka hingga hilang krisi kepercayaan dari Tuan penguasa negeri yaitu “ Rakyat””
Tidak ada komentar:
Posting Komentar